PENYULUHAN KEPADA PETANI OLEH PPL DESA KENAMAN


Kenaman,27 Oktober 2017 Bila kita berbicara tentang tanaman baik tanaman pertanian maupun perkebunan kita selalu diingatkan kepada beberapa hal yang sering menghantui para petani salah satunya adalah hama dan sering pula kita mendengar ada hama yang kebal terhadap racun hama, problem inilah yang baru disampaikan oleh penyuluh kepada petani mengapa sampai hama menjadi kebal terhadap racun yang kita gunakan, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi yang pertama petani saat menyemprot racun hama tidak tepat waktunya, kedua racun yang digunakan tidak sesuai dosis sehinga kurang efisien dan hama menjadi kebal terhadap racun tersebut, mengapa?, itu pertanyaan yang disampaikan salah satu petani saat pengarahan, apabila dosis berlebihan serta penyemprotan terlalu basah maka hama tersebut menjadi kebal karena hama yang tidak mati akan berkembang biak dan tahan terhadap racun tersebut, pada sayap hama tersebut ibarat seperti daun keladi apa bila kita siram air daun tersebut tidak lengket air, tetapi apabila kita mengunakan semprotan dengan pancaran air embun maka sayap hama tersebut akan lengket air rancun dan meresap sehinga hama tersebut bisa di mati/musnah.


Kemudian waktu pembasmi hama juga harus diperhatikan bisa dilakukan pada pagi hari atau sore hari ini dilakukan karena waktu tersebut hama masih berada di tanaman kita, selanjutnya disampaikan juga oleh penyuluh tentang penyemprotan gulma/rumput pada tanaman itu dilkukan sebaiknya mengikuti dosis yang tercantum pada label dibotol racun tersebut agar tidak berlebihan sehinga kurang efisien, kemudian waktu penyemprotan sebaiknya dilakukan dari jam 07 pagi sampai jam 10.00 karena apa bila sudah terlalu siang maka racun akan menguap sehinga tidak efisien dan terlalu pagi embun masih banyak sehinga larutan akan tercampur air embun juga kurang efisien gulma/rumput tidak mati sempurna, itulah sebab mengapa selama ini semua racun hama dan racun yang lainnya dirasakan kurang ampuh oleh petani maka terjawab sudah semua itu karena petani kurang memperhatikan aspek dosis dan waktu,
kontributor desa kenaman, M.Risky Parasetio

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan